Friday, 22 January 2016

Bukan tentang Aksi Teror Bom

Saya bukan ahli dalam menganalisis kasus teror bom yang terjadi di kawasan Sarinah beberapa hari yang lalu. Tidak. Saya tidak akan membahas itu. Saya hanya tergelitik melihat beberapa tagar yang berseliweran di media sosial.
Sebagai seorang yang jarang menonton televisi, pertama kali saya mendapat kabar tentang kasus teror bom di kawasan Sarinah melalui grup WhatsApp. Beberapa anggota dari grup ini adalah jurnalis, dan beberapa saat setelah terjadi ledakan bom, muncullah berita ini di grup disertai dengan foto-foto orang yang sudah tergeletak di dekat pos polisi di Jalan MH. Thamrin. Namun, beberapa kali jurnalis ini mengingatkan bahwa berita ini masih di 'make sure'. Mulailah saya mengotak-atik gadget saya dan mencari tahu tentang kasus tersebut.
Berita yang tersebar di internet memang tidak sepenuhnya bisa dipercaya, tetapi setidaknya saya mendapat gambaran tentang apa yang sedang terjadi di Sarinah. Pertama kali yang saya dapatkan adalah tentang tweet seseorang yang memperingatkan bahwa hati-hati terhadap pengalihan isu, sebab pada tanggal 14 Januari 2016 adalah batas waktu Freeport Indonesia untuk menawarkan saham. Tentu saja saya tidak akan membahas ini. Kedua, saya membaca tentang larangan membuat tagar #PrayForJakarta, alih-alih akan berakibat pada krisis ekonomi. Lagi-lagi saya bukan ahli ekonom dan saya tidak akan membahasnya.
Pasca ledakan bom di kawasan Sarinah membuat netizen menuliskan beberapa tagar di akun media sosialnya, seperti tagar #PrayForJakarta. Saya rasa hal ini wajar saja sebagai bentuk rasa simpati terhadap peristiwa yang sedang melanda negara kita dan juga sebagai bentuk rasa belasungkawa kepada para korban ledakan bom. Dukungan ini bukan hanya diberikan dari warga negara Indonesia, tetapi banyak dari warga negara asing yang membuat tagar ini. Syukurlah, masih banyak yang peduli dengan negara kita. Kedua, tagar #JakartaMencekam, membaca tagar ini kok ya seperti mengerikan, mungkin maksud dari tagar ini agar kita lebih waspada, tapi menurutku jatuhnya malah seperti menakut-nakuti. Sebuah tagar yang serasa didramatisasi. Ah, dunia ini memang panggung sandiwara.
Munculnya tagar #KamiTidakTakut sempat menjadi trending topic dunia. Lucunya, Pak Jamal, seorang pedagang sate dijadikan sebagai simbol keberanian dari tagar #KamiTidakTakut. Bagaimana tidak, saat serangan teror berlangsung, Pak Jamal ini tengah asyik mengipas-ngipas sate dagangannya seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal lokasi dagangannya berada dekat dengan lokasi kejadian teror bom. Benar-benar bapak yang pemberani. Saya salut padamu, Pak! Berbagai meme bermunculan tentang pedagang sate ini, salah satunya berisi tulisan "Pantang Pulang Sebelum Matang". Selain bapak pedagang sate, terlihat juga pedagang kopi dan rokok yang dengan santainya berkeliaran menjajakan dagangannya menggunakan sepeda ontel. Dan masih banyak lagi meme lain yang diikuti tagar #KamiTidakTakut. Memang, teror bom sepertinya tidak mudah begitu saja membuat warga Jakarta takut. Menanggapi tagar ini, salah satu pengguna media sosial Facebook, Puthut EA, membuat status yang intinya berbunyi seperti ini, "Jadi sebetulnya tidak perlu pakai tagar-tagaran untuk membuat masyarakat kita tidak takut. Sebab memang masyarakat kita tidak pernah takut. Satu-satunya yang ditakuti masyarakat kita hanyalah: cegatan polisi."
Dari berbagai macam tagar yang saya temukan, satu-satunya tagar yang menarik perhatian saya dan membuat saya penasaran adalah tagar #KamiNaksir. Lha, hubungannya apa coba dengan kasus teror bom. Setelah saya telusuri, ternyata berhubungan dengan seorang polisi yang katanya berwajah tampan, dengan aksi heroiknya berlari melewati pembatas jalan sambil mengacungkan pistol melawan teroris. Dalam situasi yang tegang begini kok masih sempat-sempatnya ya orang memperhatikan wajah-wajah 'bening'. Berikut salah satu tweet dari @AdheFebrianti, "Adem banget liatnya (walaupun emak-emak) #KamiNaksir." Ya ampun Bu, daripada sibuk buat tweet yang tidak akan digubris si polisi tampan, mendingan buat resep cara membuat pizza lalu dishare, kan lebih bermanfaat gitu. Tagar ini heboh digunakan di media sosial Twitter, mulai dari dedek-dedek gemes hingga mamah-mamah muda. Untungnya, tagar #KamiNaksir ini tidak diikuti dengan tagar #NikahinAdekBang.***

3 comments:

  1. Wah, keren.
    Kesalahan ketik sangat minim.
    Kalau boleh, sebaiknya istilah asing digantikan dengan padanan kata berbahasa Indonesia. Lebih baik menurutku, dibandingkan dengan menuliskannya secara miring.
    Ditunggu tulisannya berikutnya, Hajrah.

    ReplyDelete
  2. Menanggapi komen Kak Ica, mungkin tidak masalah istilah asing yang digunakan, karena istilah-istilah itu sudah merakyat di Indonesia.

    Saran lagi, mungkin sebaiknya bukan cuma resep yang dishere, bagaimana kalau pizzanya saja yang langsung dishere? :D

    ReplyDelete
  3. Terima kasih kak Ica dan Uchi.

    Wah, saran Uchi yang kedua saya sangat setubuh, eh setuju maksudnya :D

    ReplyDelete