Tuesday, 2 February 2016

Papeda

Mama, sosok yang sangat penyabar dan tidak banyak bicara. Diam-diam, saya mengagumi sikap mama dan berharap mempunyai sikap seperti mama. Di usianya yang sudah setengah abad, orang sering mengatakan bahwa wajah mama terlihat lebih muda dari usianya. Mama biasanya hanya tersenyum mendengarnya tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Itulah mama. Satu hal yang juga saya sukai dari mama, setiap mau menyajikan makanan di rumah, ia terlebih dahulu bertanya kepada anak-anaknya, “Mau dimasakkan apa hari ini?” Ini adalah salah satu yang paling saya rindukan sejak tinggal berjauhan dari mama.
Serui, nama sebuah kota di bagian timur Indonesia. Tempat orangtua saya tinggal, sekaligus tempat kelahiran saya. Bertahun-tahun tinggal di kota ini, rasanya sangat berat saya tinggalkan saat memutuskan untuk menuntut ilmu di Makassar. Ketika saya pulang ke kampung halaman (saya menyebutnya kampung halaman karena saya dilahirkan dan dibesarkan di sana, meskipun bukan berasal dari suku asli Papua), mama pasti bertanya sebelum memasak, “Mau makan apa?” Jawaban yang spontan keluar dari mulut saya tanpa berpikir panjang, Papeda. Mama biasanya hanya tertawa dan segera mengabulkan permintaan saya.
Papeda merupakan makanan khas yang berasal dari Papua dan Maluku. Orang yang pernah tinggal di Papua dan pernah merasakan makanan ini, yakin dan percaya ia akan merindukannya saat sudah meninggalkan Papua. Papeda adalah makanan yang berbahan dasar tepung sagu. Di Sulawesi Selatan kalian akan menemukan kapurung, makanan yang juga berbahan dasar tepung sagu. Namun, kapurung dan papeda berbeda dalam hal penyajian. Karena memiliki rasa yang tawar, papeda disajikan dengan ikan kuah kuning dan sayur kangkung yang ditumis dengan bunga pepaya, serta sambal tomat sebagai pelengkap.
Saya tidak ahli dalam membuat papeda. Papeda hasil buatan saya selalu cair, tidak sesuai dengan tekstur yang seharusnya. Untuk itu, saya lebih sering memilih memperhatikan mama membuatnya. Pertama-tama, mama memasak air yang nantinya digunakan untuk menyiram sagu. Sembari menunggu air mendidih, mama merendam tepung sagu sehingga menjadi lebih kental, biasanya mama menambah perasan jeruk nipis agar bau sagu tidak terlalu menyengat. Kemudian sagu yang sudah direndam, disaring untuk memisahkan kotoran-kotoran yang ada dalam sagu. Setelah air mendidih, mama mulai menyiram sagu sambil terus diaduk-aduk hingga memiliki tekstur yang kenyal dan sagunya telah matang sempurna. Ada teknik tersendiri dalam membuat papeda, air yang digunakan untuk menyiram sagu harus disesuaikan dan diperkirakan dengan baik. Jika tidak, ya hasilnya seperti yang biasa saya buat. Cair. Namun untuk urusan ini, keahlian mama sudah tidak diragukan lagi.
Selanjutnya dalam membuat ikan kuah kuning, mama mengulek berbagai macam bumbu rempah. Mama lebih memilih mengulek daripada memblender bumbu, katanya cita rasa antara bumbu yang diulek dan bumbu yang diblender itu berbeda. Saya mengiyakan saja, mana tahu saya soal begini, mama yang sudah berpengalaman dan telah banyak 'makan asam garam kehidupan' di dapur. Ikan yang sering mama gunakan adalah ikan kakap merah. Ikan ini memiliki daging yang tebal dan lembut. Bumbu yang telah diulek tadi ditumis hingga harum, kemudian mama memasukkan ikan dan menambahkan air. Sambil diaduk, tunggu beberapa saat hingga mendidih. Biasanya mama menambahkan belimbing wuluh agar kuah ikan terasa lebih segar.
Terakhir adalah sayur kangkung. Seperti sayur tumisan biasa, sayur kangkung ditumis dengan berbagai bumbu pelengkap. Namun yang membuat berbeda dengan kangkung tumis yang lain, mama menambahkan bunga pepaya. Tumisan kangkung dan bunga pepaya ini memang sudah menjadi pasangan wajib untuk disajikan dengan papeda. Meski bunga pepaya memiliki rasa yang agak pahit, namun terasa nikmat di lidah bagi orang yang telah terbiasa memakannya. Saya menyukai makanan pedas, jadi biasanya saya yang mendapat giliran membuat sambal.
Papeda dengan cita rasa yang khas ini sangat sedap disantap dalam keadaan panas, karena jika dingin teksturnya akan mengeras. Untuk mengobati kerinduan saya dengan makanan ini, pastilah tidak ada kata tunggu untuk menyantapnya. Tekstur papeda yang lembut, dengah kuah ikan yang segar dan sayur yang gurih, sangat nikmat dan pas di lidah. Tentunya dengan sambal sebagai pelengkap, terobatilah kerinduan yang setengah mati saya pendam.


No comments:

Post a Comment